TEORI BELAJAR


Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
 Pembelajaran merupakan suatu sistem yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan.
 Untuk Learning Theory ini kita bahas beberapa poin utama dari berbagai sumber referensi.

Menurut Dale H. Schunk dalam bukunya Learning Theories an Educational Perspective mengidentifikasi tiga kriteria pembelajaran, yaitu:
 1. Pembelajaran melibatkan perubahan- dalam perilaku atau dalam kapasitas berperilaku.
Orang dikatakan belajar ketika mereka menjadi mampu melakukan suatu perubahan, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari tidak bisa melakukan menjadi bisa melakukan.
2. Pembelajaran bertahan lama seiring dengan waktu.

Ada perbedaan pendapat tentang berapa lama perubahan harus bertahan untuk dapat disebut sebagai hasil pembelajaran, tetap kebanyakan sepakat bahwa perubahan yang durasinya singkat (hanya beberapa detik) tidak dapat dikualifikasikan sebagai pembelajaran.
3. Pembelajaran terjadi melalui pengalaman.

Hal ini dimaksud bisa dari pengalaman diri sendiri maupun dari pengalaman atau mengamati orang lain.
 Dalam sejarah manusia, kita bisa mengetahui ada 3 teori besar tentang pembelajaran, yaitu :




1. Teori Behaviorism, belajar adalah perubahan pada tingkah laku sebagai akibat dari stimulus dan respon.
• Fokus pada perilaku yang diamati, tidak pada apa yang terjadi pada pikiran.
• Perilaku adalah akibat dari stimulus dan response.
• Implikasi terhadap pembelajaran :
   o Learner belajar melalui latihan  terus menerus, disertai dengan reinforcement (penguatan) dan punishment (hukuman).
   o Pembelajaran harus berurutan dan di-supervisi/observasi.
 2. Teori Cognitivism, teori ini lebih fokus kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Belajar tidak hanya melibatkan hubungan stimulus dan respons, tapi lebih dari itu, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.
• Fokus pada bagaimana informasi diterima, dikelola, disimpan, dan dimunculkan dari pikirian
• Implikasi terhadap pembelajaran :
  o Learner belajar melalui mental processing
  o Pembelajaran harus selalu menjaga atensi peserta, disertai dengan repetisi, review, visualisasi, mind-mapping, dll
 3. Teori Constructivism, pecahan dari kognitivisme yang memfokuskan pada pengembangan kemampuan peserta didik untuk membangun atau mengkonstruksi sendiri pengetahuan baru melalui proses berpikir mengolah pengetahuan dan pengalaman lama dan baru.
• Pembelajaran merupakan proses konstruksi (bentukan) learner secara aktif dari pengalamannya
• Implikasi terhadap pembelajaran :
   o Learner belajar melalui proses konstruksi, sosilasiasi, dan self-lead.
   o Pembelajaran harus diawali dengan pertanyaan / problem, dan dilakukan bersama dengan rekan lain.


Beberapa poin dari pola Pendidikan Constructivism adalah:
• Pemahaman tidak dapat ditransfer, melainkan ditumbuhkan melalui proses berpikir. Menumbuhkan proses berpikir bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat analisis.
• Pembelajaran yang efektif terjadi melalui PENGALAMAN. Pengalaman apa yang kita ciptakan di dalam kelas, sehingga materi belajar menempel dalam pikiran siswa.
• Hal-hal yang sulit perlu disederhanakan untuk membantu pemahaman. Ini yang membedakan suatu bahan ajar bisa diterima dengan nyaman atau tidak oleh siswa ketika hal-hal sulit/kompleks bisa disederhanakan oleh pengajar.
 Ada 3 prinsip dalam pola Konstruktif
1. Siswa membangun pembelajarannya dengan instruksi yang minimal. Artinya guru tidak terlalu banyak perintah.
2. Guru dan siswa, juga sesama siswa saling belajar dan mengajar.
3. Guru sebagai coach/fasilitator dalam proses pembelajaran.
Ada istilah Learning Cycle Five E dalam pembelajaran dengan teori Konstruktif, yaitu :


 1. Engage – mengikutsertakan siswa dan membuat mereka tertarik belajar
Contohnya: bertanya, mendefinisikan masalah, memberi kejutan, menggunakan masalah yang memang ada di sekitar mereka.
2. Explore – siswa secara langsung turut menggali materi pembelajaran
Siswa bekerja dalam tim, guru sebagai fasilitator. Siswa melakukan eksplorasi terhadap apa yang dia ingin tahu dalam melakukan proses belajar.
3. Explain
Penjelasan datang dari:
• Para siswa yang belajar bersama.
• Guru yang memperkenalkan konsep dan informasi untuk pengetahuan siswa.
Tahap ini bisa digunakan untuk mengidentifikasi level pemahaman dan mengklarifikasi kesalahan yang timbul
 4. Elaborate – mengembangkan atau menguraikan pelajaran.
• Siswa memperluas konsep pembelajaran
• Siswa membuat connection
• Siswa mengaplikasikan pemahaman dalam lingkungan sekitar mereka
• Bisa menimbulkan pemahaman baru
5. Evaluate – mengevaluasi proses yang telah dilakukan
• Dapat terjadi pada setiap tahap

Yg perlu disadari adalah para fasilitator pembelajaran adalah:
1. rentang perhatian siswa itu pendek. Semakin muda semakin kecil. Kalau anak sekolah rata-rata sekitar 10-15 menit. Artinya, kita perlu menjaga rentang tersebut.
2. Siswa mudah bosan dan terpecah fokusnya.

Maka para fasilitator pembelajaran perlu menguasai:
1. Banyak Metode pembelajaran sehingga bisa digunakan sesuai kondisi kelas
2. Fleksibilitas yg tinggi, agar tdk memaksakan satu pendekatan bila pendekatan tsb tdk efektif.
3. banyak cara ice breaking utk mengembalikan fokus siswa.